Kukira…Ternyata…

August 18th, 2010 admin 18 comments

Kukira Sarimatondang itu di mana…

Ternyata tak jauh dari kota Siantar. Sarimatondang bisa dijangkau dengan menggunakan angkot, salah satunya bermerek Beringin Indah. Kita bisa naik angkutan ini di Jl. Wahidin, di samping Toko Roti BreadTop.  Dari kota Siantar, kita akan  berbelok ke kanan, searah dengan jalan menuju kebun teh Sidamanik. Ongkosnya Rp. 5.000,- per orang dan dijamin kita tidak akan tersesat. Karena selama perjalanan ke Sarimatondang, kita bisa berbincang-bincang dan bertanya dengan masyarakat yang juga menuju Sarimatondang atau Sidamanik. Kalaupun kita hanya diam selama di angkot, mereka yang akan bertanya terlebih dahulu, “Mau ke mana kalian dek?”, “Siapa di Sarimatondang?”, lalu “Boru apa aja kalian?” :) Keramahan yang mungkin sudah jarang kita temukan di kota.

Kukira di Sarimantondang aku harus berbahasa Indonesia…

Ternyata masyarakat di sana berbahasa Batak Toba. Sebelum berangkat, karena tak ada bayangan sama sekali Sarimatondang itu seperti apa, aku membayangkan di desa yang termasuk dalam Kabupaten Simalungun ini masyarakatnya akan berbahasa Simalungun. Eh, sejak berangkat sampai pulang, yang kami temui adalah orang-orang yang juga berbahasa Batak Toba. Jadi, kami pun bisa merasa seperti di kampung sendiri, hehehehehehe…Sepanjang kami berjalan dari lapangan Sarimatondang sampai ke Gapura perbatasan desa, banyak rumah yang pemiliknya bermarga Sidabutar, Damanik, dan tentu saja ada yang bermarga Siadari :D

Kukira kami hanya akan sampai di Sarimatondang, kebingungan, lalu pulang…

Ternyata…penduduk Sarimatondang, dengan ramah menjelaskan letak pusat desa Sarimatondang dan tentu saja Aek Simatahuting, tujuan utama kami. Dengan berjalan kami sekitar 10 menit dari lapangan Sarimatondang, melewati perumahan penduduk, kebun kopi dan jalan yang sedikit curam, akhirnya kami sampai di Aek Simatahuting. Airnya bening dan sejuk sekali. Pengen rasanya mandi di sana, tapi sayang kami tak membawa pakaian ganti. Akhirnya, kami memuaskan diri dengan mengabadikan pemandangan indah Aek Simatahuting dengan kameraku, yang penutup view findernya tercecer saat berjalan kaki menuju gapura :

Saat sedang jepret-jepret, ada PMS alias pemuda setempat (bikin singkatan sendiri) yang menjelaskan bahwa ada satu mata air lagi yang lebih besar, tetapi agak jauh dari tempat kami berada saat itu. Berhubung cuaca sudah mulai mendung dan waktu juga sudah mendekati sore, akhirnya aku dan July yang menemaniku memutuskan untuk melihatnya lain waktu saja.

Kukira kek mana kalilah Sarimatondang yang dibilang Ito Eben ini…

Ternyata kereeeeennnnn…Jangan bayangkan gedung-gedung yang menjulang tinggi seperti di kota. Jangan bayangkan pula restoran-restoran yang menawarkan berbagai makanan yang kadang rasanya aneh. Cukup bayangkan saja desa kecil yang penduduknya ramah, anak-anaknya lincah-lincah, ada mata air yang masih digunakan untuk mandi dan mencuci, ada ibu-ibu yang berkumpul di teras rumah, ada anak sekolah yang pulang dengan berjalan kaki…pokoknya seruuuu…Aku jadi teringat Tarutung, dan merasa bangga punya kampung halaman :D

Akhirnya kami pulang setelah menyusuri sepanjang jalan Desa Sarimatondang, untuk menerka-nerka kira-kira yang mana rumah Ito Ebenezer Siadari, yang secara tidak langsung sering memancing aku untuk melihat langsung Sarimatondang, melalui tulisan-tulisan lucu tentang kampung halamannya ini. Kami menemukan dua rumah yang pemiliknya bermarga Siadari. Dan kami yakin rumah Bapak St. Siadari, BA dan Ibu boru Damanik itulah rumah Ito Eben.

Berhubung perjalanan kami ini dalam rangka memberi kejutan, maka aku tak memberi tahu Ito Eben bahwa kami akan berkunjung ke Sarimatondang. Tapi lain kali, aku akan mengabarinya, karna dia sudah berjanji bahwa kami akan dijamu dengan dayon nabinatur (ayam panggang yang… diatur) :)

Berikut gambar-gambar yang berhasil kami abadikan. Selamat menikmati, dan berkunjunglah ke Sarimatondang. Jika tak tau jalan menuju ke sana, kontak saja aku atau Ito Eben :)

Mar-Tujuh Belas, Merdeka Sehari (2)

August 18th, 2010 admin 4 comments

Lanjutan dari Mar-Tujuh Belas, Merdeka Sehari (1)

Mar-Tujuh Belas, Merdeka Sehari (1)

August 18th, 2010 admin No comments

Pagi-pagi sekali, di tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, merupakan pagi yang tak biasa yang hampir semua masyarakat Tarutung dan sekitarnya. Anak-anak yang sudah bersekolah akan berpakaian serapi mungkin dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah berkumpul di sekolah masing-masing, para siswa dari semua sekolah akan berbaris menuju Tanah Lapang Serbaguna untuk mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI. Anak-anak yang belum bersekolah juga tak ketinggalan, memakai pakaian terbaik yang dimiliki dan bersama ibu atau bapak akan menuju sekitaran Tanah Lapang dan Jembatan Aek Sigeaon, untuk ikut merayakan kemeriahan hari kemerdekaan.

Orang di Tarutung sering menyebut perayaan hari kemerdekaan dengan “mar-tujuh belas” atau terjemahan Bahasa Indonesia secara langsung “ber-tujuh belas”. Jauh hari sebelumnya, para orang tua harus mempersiapkan kocek yang lebih besar untuk tanggal 17 Agustus. Karena pada hari itu, anak-anak biasanya diberi uang jajan yang lebih besar dari biasanya. Memang, saat “mar-tujuh belas”, anak-anaklah yang paling merdeka. Biasanya mereka bebas memilih mainan yang disukai untuk dibeli, bebas memilih makanan yang ingin dimakan, pokoknya bebas seharian, merdeka seharian.

Hampir semua masyarakat dari semua sudut Tarutung akan berkumpul di kota dan tanah lapang. Karena di kedua tempat inilah pusat jajanan, mulai dari bakso, sate, mie sop, sampai rambutan, salak dan jeruk (aku tak menemukan penjual buah tungir-tungir tahun ini, hehehe…), pusat pedangang mainan anak dan tempat menonton aneka perlombaan.

Namun, tahun ini sedikit berbeda dengan tahun yang lalu. Tak ada lomba panjat pohon pinang, tarik tambang ataupun lomba menangkap ikan mas di Aek Sigeaon. Ditambah lagi hujan deras yang turun sejak siang sampai sore hari. Namun, semoga tak mengurangi semangat masyarakat Tarutung dalam merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, yang mungkin saja hanya bisa dirasakan dalam sehari.

Baiklah, kita saksikan saja foto-fotonya dengan imbulu yang marsisir (kata Kak Lasma, he..he..he..)…

Marobor-obor di Tarutung

August 17th, 2010 admin No comments

Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di Tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, setiap tahunnya selalu dimeriahkan dengan Pawai Obor pada malam hari tanggal 16 Agustus. Pawai Obor ini diikuti oleh seluruh siswa SD-SMU, pegawai instansi pemerintahan dan lain-lain. Masyarakat Tarutung biasa menyebutnya “marobor-obor” :D

Masyarakat selalu menyambut antusias kegiatan ini, meskipun hampir setiap tahun perayaan HUT RI selalu disertai guyuran hujan. Ibu-ibu dan bapak-bapak akan membawa anak-anaknya untuk menyaksikan iring-iringan peserta pawai, yang berjalan mengelilingi kota sambil masing-masing membawa obor yang terbuat dari bambu. Pawai pun dimeriahkan oleh barisan tim drum band dari beberapa sekolah. Dan, tak bisa dipungkiri menonton drum band inilah salah satu yang ditunggu-tunggu masyarakat. Jika dentuman drum sudah terdengar dari kejauhan, anak-anak, ibu-ibu sampai yang tua akan berlarian dari rumah masing-masing dan berkumpul di pinggir jalan, seakan tak mau ketinggalan menyaksikan para siswa-siswa yang gagah dan para mayoret bersepatu tinggi, memainkan lagu-lagu perjuangan.

Biasanya, anak-anak akan berebut obor dari para peserta pawai. Merupakan suatu kebanggaan jika bisa mendapatkan banyak obor pada malam itu. Setelah berakhirnya pawai, anak-anak akan berkumpul untuk bermain obor, dan kadang diselingi dengan kegiatan baris berbaris menirukan peserta pawai obor yang baru saja mereka saksikan :)

Berhubung foto-foto yang aku ambil tak menggunakan bantuan lampu flash, maafkanlah jika gambarnya sedikit kabur dan gelap. Namun, semoga tak mengurangi nilai foto-fotonya. Jika ada teman atau kerabat teman-teman yang mungkin secara tak sengaja terekam dalam foto-foto di bawah ini, tak ada tujuan komersial dan lainnya. Aku hanya ingin berbagi kemeriahan perayaan HUT RI di kampung halaman dan mungkin menghapus sedikit kerinduan teman-teman yang tak bisa menyaksikan langsung pawai obor tahun ini :)

Maka tak perlu berlama-lama lagi, mari kita saksikan fotonya beramai-ramai, he..he..he..he..

Belajar tentang Senja

July 22nd, 2010 admin No comments

warna-senja

Senja adalah masa setelah terbenamnya matahari.

Senja sipil adalah waktu di mana matahari berada pada 6 derajat di bawah cakrawala pada malam hari. Pada saat ini, benda tidak bisa dibedakan serta beberapa planet dan bintang terlihat dengan mata telanjang.

Senja nautikal adalah ketika matahari setinggi 12 derajat di bawah cakrawala di malam hari. Pada masa ini, benda tidak bisa lagi dipisahkan, dan cakrawala tak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Senja astronomi adalah waktu di mana matahari setinggi 18 derajat di bawah cakrawala di malam hari. Pada saat ini, matahari tak lagi menerangi langit, dan tak lagi bertentangan dengan pengamatan astronomis.

Senja berbeda dengan terbenamnya matahari, yang merupakan waktu ketika sisi matahari yang landung tenggelam di cakrawala.

dari wikipedia indonesia

Berlabuh

July 22nd, 2010 admin No comments

selamat-pagi

Pagi telah datang, kapal-kapal pun siap perang… :) Pemandangan dari Hotel Siantar, Parapat.

Langit Merah

July 22nd, 2010 admin No comments

senja-merah

Langit memerah saat matahari terbenam. Selalu mendapatkan pemandangan yang berbeda setiap hari.

Selamat Malam Parapat

July 22nd, 2010 admin No comments

selamat-malam-danau-toba

Pemandangan Kota Parapat di malam hari. Gambar diambil dari sebuah kamar di Hotel Siantar :)

Categories: Landscape, Toba Tags: ,

Matahari Terbenam

July 22nd, 2010 admin No comments

senja

Pemandangan matahari terbenam dari Hotel Niagara, Parapat.

Sinar Merah

July 22nd, 2010 admin No comments

selamat-sore

Meski sudah berkali-kali ke Danau Toba, tak bosan-bosannya memandangi danau memerah diterpa sinar matahari.